Saya baru dapat panggilan interview setelah dua minggu di Jakarta. Panggilan kali ini datang dari sebuah perusahaan besar yang bergerak dalam bidang percetakan dan penerbitan. Kebetulan sekali, teriak batinku. Saya senang dengan dunia buku, mulai dari pengumpulan naskah, proses produksi, manajemen pemasaran, resensi buku, pembuatan perpustakaan mini sampai koleksi buku-buku klasik maupun kontemporer.
Kualifikasi yang dibutuhkan di perusahaan ini tidak terlalu sulit. Sebagai perusahaan yang akan mengembangkan sayapnya dalam bidang Pendidikan Anak Islam dan Pemikiran Islam, ia membutuhkan orang-orang yang cinta buku, suka menulis, bisa bahasa arab dan diutamakan S2. Sangat simple persyaratannya. Namun bukan berarti segalanya berakhir disini. Maksud saya, walaupun semua kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan sudah terpenuhi, namun belum tentu diterima bekerja di perusahaan ini secara otomatis. Ternyata interview sangat menentukan. Dalam hal ini, perusahaan ingin mengetahui kemampuan interpersonal, kemampuan manajemen konflik, kesungguhan dan kegigihan pelamar. Nah, di interview inilah banyak yang berguguran. Karena dalam kacamata perusahaan, data ataupun CV bisa dimodifikasi, dibuat semenarik mungkin, tapi kekuatan interpersonal oranglah yang menentukan mana pelamar yang kompoten dan tidak.
Dalam interview kali ini ada 3 tangga yang harus dilalui. Pertama, interview dengan manager divisi Pemikiran Islam untuk memeriksa administrasi dan kemampuan mendasar bagi calon pelamar. Kedua, interview dengan kepala bagian industri untuk mengetahui sejauh mana pelamar mendalami bidang yang akan ditekuninya; mampu nggak menangkap peluang pasar, jenis buku yang diterbitkan, kemampuan interpersonal, skill dan kemampuan dalam bidang penerbitan, dan masih banyak lagi. Ketiga, interview dengan Direktur perusahaan mengenai perusahaan, kegigihan dan ketekunan dalam bekerja, manajemen waktu, manajemen produksi, dll.
Saya hanya diberi kesempatan interview 2 kali. Karena, ketika melangkah ke interview ketiga, ada pemberitahuan dari perusahaan bahwa saya tidak lulus (kasihan deh aku hiks..hiks). Sebenarnya bukan poin ini yang ingin saya sampaikan, kecewa sih iya, cuma kalau harus kecewa berat dengan keputusan perusahaan, juga tidak beralasan. Mereka nggak mau dong bangkrut dengan mempekerjakan orang yang belum pengalaman seperti saya.
Walaupun saya gagal dalam interview kali ini, mimpi menjadi asisten manager belum terwujud, namun saya telah belajar banyak selama interview. Pengalaman ini yang membuat saya semakin terpacu untuk terus belajar supaya mampu bersaing di tengah dunia konpetitif. Saya sadar sebagai alumni perguruan tinggi swasta harus belajar banyak untuk memasuki dunia kerja. Karena kenyataannya, spesialisasi yang saya dalami selama ini sering bertolak belakang dengan kebutuhan pasar (dunia kerja). Bukan sesuatu yang naïf kalau saya kemudian mulai mendalami dasar-dasar akuntansi, manajemen pasar dan modal, tehnik wawancara dan terus mengembangkan skill dan IT. Saya mulai membaca buku “Cara Cerdas Menjawab Job Interview” karangan Martin J. Yate, browsing tehnik wawancara yang memukau di internet, menyantap cerita orang-orang sukses Indonesia dan dunia.
Tidak ada alasan bagi saya untuk menyalahkan jurusan sehingga ‘cukup kesulitan’ dalam mencari kerja di Jakarta. Saya selalu menghibur diri dengan kata-kata “Mungkin belum rezeki kali…hehe”, tapi saya juga tidak boleh terlalu pasrah dengan nasib. Paling tidak, seandainya jurusan yang kudalami selama ini kurang membantu dalam mencari pekerjaan, mungkin harus ekspansi ke dunia lain (apaan tuh?), berpacu dengan kebutuhan dunia kerja.
Yang jelas tidak ada orang sukses yang mulai dari atas dan tidak ada orang sukses dengan berpangku tangan dan sekedar berangan-angan. Mayoritas orang sukses mulai dari bawah, bahkan dari nol sama sekali. Aa Gym, misalnya, yang telah suskes dengan dakwah dan bisnisnya, dulunya pernah jualan buku di masjid Al Furqan, Bandung, menjual mie bakso dan kerajinan tangan.
Dengan begitu, saya tetap semangat. Seandainya ketidaklulusan saya di penerbit ini karena ketidakberuntungan (belum rezeki saya), saya yakin masih banyak lowongan dan peluang yang menanti. Saya harus mempersiapkan diri daripada sekedar menangisi nasib dan menyalahkan takdir. Untuk Indonesiaku, bangkitlah!
http://www.warnaislam.com/rubrik/taman/2009/3/19/840/Belajar_Pengalaman.htm
Belajar dari Pengalaman!
Diposting oleh A Learner Kamis, 19 Maret 2009 di 00.25
0 komentar Label: Tulisan Lepas
Ujian PKU; Penjaringan Calon Kader Ulama
Diposting oleh A Learner Selasa, 10 Februari 2009 di 21.43
Tanggal 9 dan 10 Februari 2009, MUI Provinsi DKI Jakarta kembali mengadakan ujian masuk Pendidikan Kader Ulama (PKU) angkatan X. bertempat di Masjid Islamic Center, Jl. Kramat Jaya Raya, Koja, Jakarta Utara. Ujian kali ini diikuti kurang lebih 107 peserta dari berbagai macam daerah dan disiplin ilmu. Materi ujian tulis terdiri dari bahasa Arab (yang meliputi kaedah-kaedah bahasa arab dan fahmu al maqal) dan pengetahuan agama islam (yang meliputi materi fikih, hadis, tafsir, tasawuf dan pengetahuan umum). Dan materi ujian lisan meliputi wawancara dan baca kitab gundul.
Sepintas ujian ini tidak terlalu susah, apalagi bagi lulusan perguruan tinggi agama ataupun aktifis dakwah, karena materi-materi sudah familiar bahkan sering diulang-ulang dalam kajian, seminar dan pengajian. Namun, perlu hati-hati juga sebab walaupun hanya pilihan a,b,c dan d, namun jawaban yang diberikan cenderung semisal tapi tidak sama.
PKU ini termasuk salah satu agenda besar MUI DKI Jakarta untuk melahirkan ulama-ulama yang mampu menjadi pelopor dalam meraih kemajuan dan memberikan bimbingan moral dan spiritual di tengah arus materialisme yang telah mewabah dewasa ini. MUI DKI juga berharap PKU mampu melahirkan ulama yang menjadi waratsatul anbiya’ (pewaris para nabi) dan khadimul ummah (pelayan masyarakat).
Setiap kegiatan pasti memiliki target dan tujuan, begitu pun dengan PKU. Tujuan penyelenggaraan PKU adalah terwujudnya ulama yang berakhlak mulia, menguasai ilmu-ilmu keislaman, memahami konsep dan tanggap terhadap dinamika social, memiliki kemampuan memimpin, membimbing dan melayani umat/bangsa menuju tercapainya masyarakat yang berharkat dan bermartabat, adil dan makmur dalam naungan ridho Allah Swt.
Semoga cita-cita mulia diatas bisa tercapai, dan melalui PKU benar-benar lahir ulama-ulama yang kompoten dalam bidangnya dan mampu menyelesaikan problema umat yang semakin bertumpuk. Selamat kepada yang lulus ujian dan menjadi mahasiswa PKU anggkatan X 2009-2011, dan bagi yang belum lulus, jangan bersedih hati dan putus asa, masih banyak hal yang perlu dikerjakan walaupun tidak terlibat langsung dengan lembaga tertentu. Beramallah dan bekerja keraslah hingga suatu saat anda akan dipandang orang. Semoga…
Satu jam sebelum berangkat ujian lisan
Jakarta, 10/02/2009
0 komentar Label: Tulisan Lepas
Menjadikan Baruga "Rumah Kita"
Diposting oleh A Learner Selasa, 18 November 2008 di 10.54
Memiliki rumah sendiri adalah dambaan setiap orang. Rumah bisa menjadi sumber kebahagiaan, namun tak jarang jadi neraka bagi penghuninya. Ia mampu menjadi inspirasi dan lahan dedikasi, namun tak jarang jadi "bulan-bulanan" penghuninya ataupun orang lain yang berkunjung kesana karena tidak paham fungsinya. "Rumahku Syurgaku" adalah slogan yang sering kita dengar bahkan sering kita kampanyekan ke keluarga kita, namun sangat susah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rumah tak ubahnya seperti neraka, yang membuat kita tidak tenang, selalu ingin pergi meninggalkannya, dan membuat pikiran kita tidak mood sepanjang hari. Kuncinya, semua kembali kepada kita. Kita mau mendesign dan menjadikan seperti apa rumah kita? Semakin pintar kita menata rumah kita, menertibkan barang-barang yang berantakan dan menjaga kebersihannya, maka rumah kita akan semakin indah, bersih, enak dipandang mata, dan orang tidak sungkan untuk mampir kesana walaupun sekedar nonton TV.
Itulah yang terjadi dengan rumah kita saat ini, Baruga Sulawesi. Ia sedang sakit. Ya, Baruga kita sakit. Ntah siapa yang paling bertanggung jawab dengan manajemennya saat ini? Kita tidak usah dulu berbicara siapa Direktur Baruga? Siapa yang membersihkan dapur dan kamar mandi? Bagaimana menata ruangan tetap bersih dan enak dipandang? Apa kekurangan Baruga saat ini? Karena selama manajemen Baruga tidak jelas, maka jangan terlalu berharap Baruga bisa bersih dan tertata rapi.
Penulis sudah hampir 2 tahun lebih tinggal di Baruga walaupun sebenarnya bukan penghuni tetap, tahun 2006-2007, 2007-2008 dan 2008 sampai sekarang. Penyakit yang paling kronis yang diderita Baruga adalah kurangnya kesadaran anggota dalam merawat Baruga. Beberapa contoh kasus yang sering penulis perhatikan, pertama, kamar mandi jarang dibersihkan, padahal idealnya seminggu sekali kamar mandi dibersihkan, maka jangan heran kalau anda melihat dinding kamar mandi yang dulunya putih bersinar sekarang sudah berubah jadi kuning. Kedua, kondisi dapur yang tidak terurus. Dulu kita masih masak di dapur dalam (dekat kamar mandi), tapi letaknya kurang bagus karena bau masakan sering mengganggu ketika ada acara, dan akhirnya dipindahkan ke ruangan belakang, namun kondisinya juga memprihatinkan. Ketiga, hampir setiap selesai acara besar KKS , kondisi Baruga sangat kotor dan baru dibersihkan 2-3 hari setelahnya bahkan pertama dibersihkan seminggu setelah acara berlangsung. Bisa dibayangkan bagaimana baunya. Keempat, manajemen peminjaman Baruga berubah-ubah. Sampai saat ini belum ada aturan tertulis tata tertib peminjaman Baruga, dan setiap periode berubah kebijakannya. Alangkah lebih bagusnya, kalau manajemennya sudah mulai ditata kembali, termasuk peminjaman ruangan-ruangannya baik untuk kegiatan maupun penginapan.
Sebenarnya masih banyak persoalan Baruga yang belum selesai sampai sekarang. Seyogyanya, yang punya kebijakan dengan rumah ini segera mungkin untuk menata kembali Baruga kita. Penulis tidak bisa mengatakan bahwa yang paling bertanggung jawab dengan semua ini adalah penghuni tetap disana karena memang tidak ada penghuni tetapnya, yang ada hanya "penghuni transit" yang menginap kapan saja dia mau dan tidak punya tanggung jawab dengan kondisi Baruga. Hal ini juga perlu diperjelas keberadaannya. Sama halnya, penulis tidak bisa mengandalkan pengurus tahun ini yang notabenenya mengurusi semua keperluaan KKS termasuk Baruga, karena agenda KKS juga banyak dan butuh perhatian serius dari pengurus.
Namun penulis sangat berharap semua anggota sudi memikirkan kebersihan dan ketertiban Baruga, lebih khusus mereka yang sering memakai Baruga baik untuk keperluan almamater maupun pribadi. Bagaimanapun juga Baruga adalah wajah kita. Baruga adalah rumah kita. Indahnya wajah tergantung perawatannya. Sense of belonging anggota terhadap Baruga harus tetap ada. Tidak membiarkan Baruga jorok dan berantakan serta tidak meninggalkan Baruga dalam keadaan kotor. Wallahu A'lam.
0 komentar Label: Tulisan Lepas
Visa Haji; Sebuah Ekspresi Kekecewaaan
Diposting oleh A Learner Sabtu, 15 November 2008 di 05.05

Selama ini urusan haji dari Mesir tidak terlalu sulit dibandingkan mengurus di Indonesia. Setidaknya itu ungkapan masisir (mahasiswa/ masyarakat Indonesia di Mesir) yang sudah pernah bahkan sering naik haji. Bagi masisir yang mau haji cukup memenuhi syarat-syarat yang ditentukan pihak Travel (sampai saat ini KAT Travel masih berjaya..) seperti tinggal di Mesir minimal 1 tahun, memiliki Iqamah (izin tinggal) minimal 6 bulan, Surat keterangan kuliah atau yang sejenisnya, Pembayaran USD 300 di Bank Faisal (keperluan akomodasi dan transportasi selama di Saudi), Rekomendasi dari KBRI, Surat kesehatan (that'im), Ta'syir Audah (re-entry visa), Pas photo 4x6 2 lembar background putih, Syahadah Taharrukat bagi paspor yang hilang, Surat muhrim bagi yang muhriman dan biaya tiket mulai USD 950 – USD 1550 kapal laut maupun pesawat terbang.
Syarat-syarat ini tidak terlalu susah dibandingkan pengurusan haji di Indonesia yang memakan banyak biaya sampai 35 juta dan mesti waiting list 3 - 4 tahun. Sementara di Mesir, semua urusan haji bisa selesai dalam 3 hari kecuali visa dari Saudi dan iqamah yang memakan waktu 2 minggu.
Namun, tahun ini tidak seperti biasanya. Kendala yang dihadapi masisir terutama yang baru lulus tahun ini adalah permasalahan iqamah (izin tinggal di Mesir). Banyak masisir yang mau haji tahun ini bermasalah iqamahnya sehingga menghambat pengurusan haji. Saya termasuk dalam golongan "orang-orang yang bermasalah" karena secara akademik saya sudah selesai kuliah, dan izin tinggal saya di Mesir sampai tanggal 14 Desember 2008, sementara iqamah yang dibutuhkan untuk re-entry visa minimal 6 bulan, jadi sekitar bulan April 2009. Maka, untuk mengantisipasi masalah iqamah ini, banyak masisir yang mendaftar sementara di lembaga kursus seperti ORMAN, NILE dan LISAN ARAB, ada juga yang daftar di lembaga formal seperti American Open University, Universitas Zamalik, dll, namun sampai tasdiq (rekomendasi) keluar, ternyata sudah tidak bisa lagi dipakai untuk memperpanjang iqamah. Ini menjadi masalah lagi. Maka sebagian besar masisir memakai visa turis untuk pergi haji. Inipun tidak mudah karena pengurusannya tahun terlalu berbelit-belit.
Saya sendiri mengambil iqamah di universitas al Azhar dengan cara mendaftar kembali di tingkat III Ushuluddin. Syarat-syaratnya mudah, cukup menyerahkan syahada muaqqatah (ijazah sementara), akte lahir, fotocopi paspor, foto 6 lembar dan uang 450 pound. Jadi sekarang saya terdaftar di tingkat III usuluddin jurusan Tafsir. Sudah bisa mengambil tasdiq dan bisa ikut ujian serta dapat gelar Lc lagi (kalo mau hehe).
Ternyata setelah mendapatkan iqamah dan menyerahkan berkas ke travel, permasalahan baru muncul kembali. Pihak kedutaan Saudi di Mesir tidak mau memberikan visa karena 2 alasan, pertama, setiap jemaah akan dikenakan rusum (pembayaran) Mina-Arafah sebesar 100-150 dollar (pembayaran ini baru diberlakukan tahun ini, tahun-tahun sebelumnya gratis) dan isu pembatasan jemaah yang berangkat lewat KAT sekitar 150-200 orang sementara yang daftar sudah hampir 200-an khusus Indonesia, belum dihitung negara Malaysia, Thailand, Singapura, Turki, dll. Dua masalah inilah yang menjadi tarik menarik antara pihak kedutaan Saudi di Mesir yang mewajibkan terpenuhinya 2 syarat tadi dan pihak Travel yang masih terus bernegoisasi supaya 2 permintaan kedutaan ini tidak berlaku tahun ini tapi tahun depan saja. Imbasnya, sampai sekarang belum turun visa.
Padahal saya masih ingat terakhir kali mengumpulkan berkas ini pada tanggal 26 Oktober 2008 dan waktu itu terakhir pengumpulan berkas untuk gelombang pertama. Dan sampai saat ini, sudah 2 minggu lebih visa belum juga turun. Lagi-lagi masalah ini antara KAT dan kedutaan Saudi, tapi kami juga kena imbasnya, terutama calon jemaah yang mau sambilan disana; sambil ibadah sambil kerja. Sangat disayangkan kalau jemaah yang dari Mesir "terlantar" hanya karena faktor komunikasi antara pihak travel dan kedutaan Saudi.
Saya sebagai calon jemaah juga merasakan dirugikan karena jadwal pemberangkatan terlalu mepet dengan pelaksanaan ibadah haji. Untuk jemaah Indonesia saja, sudah berangkat tanggal 05 November 2008, tanggal 13 November 2008 kemarin sudah ada jemaah di Mekkah. Sementara kami di Mesir belum jelas pemberangkatannya karena belum ada kepastian visa dari kedutaan Saudi.
Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi untuk masa-masa mendatang. Untuk mencari iqamah saja susah, apalagi melunasi biaya yang dipakai untuk haji, kebanyakan masih dalam bentuk hutang, ditambah lagi keterlambatan visa Saudi yang menyebabkan terlambatnya pemberangkatan dari Mesir. Ini yang saya rasakan dan juga dirasakan oleh masisir yang haji tahun ini terutama yang baru Lc.
Nb; mohon doanya semoga urusan haji ini cepat selesai, kami bisa berangkat haji tahun ini dan meraih haji mabrur. Semoga ya Allah! Labbaikallahumma labbaik! Saya penuhi panggilan-Mu ya Allah!.
0 komentar Label: Tulisan Lepas
Berjiwa Pemimpin
Diposting oleh A Learner Senin, 18 Agustus 2008 di 14.50
Pemimpin adalah hal mutlak dalam sebuah negara atau organisasi. Ibarat sebuah kapal, maka ia adalah nahkodanya. Ia berperan penting dalam menentukan arah pelayaran, corak dan warna kapal serta pelabuhan mana saja yang akan disinggahi selama berlayar. Ia juga penentu kebijakan bagaimana penumpang kapal yang terdiri dari nahkoda dan Anak Buah Kapal (ABK) bisa bertahan hidup selama berlayar, termasuk hal-hal yang sederhana seperti makan, minum, kesehatan, istirahat dan hiburan ringan yang bisa mengembalikan semangat hidup dan lain sebagainya. Nampaknya sangat sederhana, tapi penuh dengan tantangan dan rintangan yang datang silih berganti, belum lagi ombak yang tidak bersahabat membuat nahkoda dan ABK harus melek lebih dari waktu yang ada. Lengah sedikit saja, bisa menyebabkan kapal karam bahkan tenggelam, apalagi sang nahkoda dan ABK belum mampu bekerjasama dalam menghadapi rintangan yang menerpa kapal, sangat bisa dipastikan bahwa semua penumpang akan mati tenggelam karena pengolahan sistem dan manajemen yang kurang proporsional.
Dalam menghadapi ombak besar inilah, sang nahkoda akan diuji kepemimpinannya. Ia tidak boleh gegabah dalam bertindak, harus memperhatikan wacana yang berkembang di grass root dan mesti bijak dalam mengambil keputusan. Karena ia menjadi pemimpin bagi orang lain (ABK) –bukan lagi memimpin diri sendiri atau komunitas tertentu-, maka ia mesti membuka telinga dan mata lebar-lebar agar semua aspirasi kultural bisa terakomodir sehingga dalam kondisi kritis bagaimanapun ia mampu membuat keputusan yang cepat dan tepat sasaran.
Sebagai ilustrasi, umpamanya, seorang nahkoda membawahi 200 ABK. Masing-masing bekerja sesuai dengan kemampuan dan fungsinya. Ada yang bertanggung jawab mengurusi layar, ada yang bertanggung jawab mengontrol mesin, ada yang bertanggung jawab menjaga kebersihan, ada yang bertanggung jawab mengisi bahan bakar, ada yang bertanggung jawab melempar jangkar, ada yang bertanggung jawab memberi peringatan kalau ada bahaya, dan seterusnya. Dalam menuju pulau impian, seorang nahkoda yang cerdik tidak hanya mendengarkan komentar dan gagasan ABK yang bertugas mengurusi layar tanpa melihat mereka yang mengisi bahan bakar. Atau hanya memperhatikan ABK yang bertugas mengontrol mesin tanpa memperhatikan mereka yang bertugas memberi peringatan kalau ada bahaya. Setiap ABK berhak menyampaikan saran dan kritik kepada sang nahkoda selama masih dalam batas-batas kewajaran dan sesuai dengan prosedur yang ada, kemudian sang nahkoda memutuskan apa yang mesti dikerjakan agar kapal tetap selamat berlayar sampai ke pulau impian.
Tentunya, setiap orang memiliki peluang menjadi pemimpin. Kalaupun tidak bisa menjadi pemimpin negara atau organisasi, minimal menjadi pemimpin dalam sebuah masyarakat kecil (keluarga) ataupun menjadi pemimpin diri sendiri. Oleh sebab itu, jiwa-jiwa kepemimpinan (jujur, bijaksana, tegas, tanggung jawab dan peka sosial) harus senantiasa terpatri dalam sanubari agar bisa mencintai dan dicintai orang lain.
Menjadi pemimpin yang dicintai rakyat bukan hal yang mudah meskipun juga tidak sulit. Perlu berproses. Saya kira kita sepakat bahwa pemimpin bukan Dewa. Ia hanya manusia biasa yang diberi amanah untuk membangun peradaban. Ia juga bukan pelayan yang hanya mengurusi dapur, kamar mandi dan kamar tidur. Tapi lebih dari itu, ia adalah bagian dari agen perubahan yang mengabdi untuk rakyat demi kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, perlu kesadaran kolektif dalam membangun sebuah negara atau organisasi, bukan hanya kesadaran pemimpin sebagai atasan tapi juga kesadaran rakyat sebagai bawahan. Kesadaran ini akan muncul bila pemimpin dan rakyat sudah mengerti hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Ada satu ungkapan menarik yang bisa menggambarkan pengabdian kita terhadap negara atau organisasi: "Don’t ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country!"
Sungguh, saya sangat prihatin dan kecewa dengan prilaku para pemimpin bangsa ini yang masih berpikir sektarian dan individualis, padahal problematika bangsa semakin bertambah. Belum lagi nasib umat Islam yang sering menjadi korban pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Maka wajar kalau sampai detik ini kita belum merasakan kebangkitan Islam. Al islam mahjubun bil muslimin. Persoalan umat Islam ada pada umat Islam sendiri. Dengan kata lain, kalau umat Islam dianggap belum bangkit, maka yang harus ditengok terlebih dahulu adalah rumah tangganya sendiri sebelum menengok pekarangan orang lain.
Drs. S. Yunanto, M.Si. dalam pengantar buku "Pintu-Pintu Menuju Kebangkitan Islam dan Indonesia" menegaskan bahwa ada empat indikator yang menyebabkan umat Islam tidak segera bangkit. Pertama, umat Islam belum sepenuhnya merasa sebagai umat, karena masing-masing kelompok dan aliran merasa pendapat dan caranya yang paling benar. Kedua, umat Islam cenderung melihat perbedaan dan kelemahan kelompok umat Islam lainnya. Hanya sedikit upaya untuk mencari kesamaan dan agenda bersama yang menjadi benang merah antara kelompok-kelompok dalam Islam. Ketiga, semangat belajar umat Islam lebih tereksploitasi kepada pendekatan-pendekatan tekstual, romantisme sejarah dan mengesampingkan aspek-aspek analitis yang berpijak kepada realitas yang paling dekat dan dialami oleh masyarakat muslim sekitarnya. Umat Islam memiliki masa lalu, tetapi kehilangan masa kini dan masa depan. Keempat, lemahnya kepemimpinan kaum muslimin. Kepemimpinan yang lemah adalah kepemimpinan yang gagal mendayagunakan seluruh potensi sumber daya (alam, manusia dan ideologi) untuk mencapai tujuan umat. Pemimpin kaum muslimin yang ada sekarang hanyalah pemimpin simbolis, primordialistik yang justru semakin memperkuat kelompok, goloran dan aliran.
Saya kira apa yang diungkapkan oleh Bapak Drs. S. Yunanto, M.Si di atas adalah tantangan bagi kita yang notabenenya pelajar dan mahasiswa Al-Azhar. Kita adalah pemimpin umat masa depan. Persaingan hidup semakin kompetitif dan selektif. Kita perlu mempersiapkan diri sejak dini. Dan apapun wujud dan aktifitas kita, dengan segala kekurangan yang ada, kita tetap berbuat menuju kesempurnaan manusia yang lebih bertakwa. Maka, waspadalah!
0 komentar Label: Tulisan Lepas
